LAPAS KELAS IIA BEKASI GANDENG UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA, KEMBANGKAN LAHAN SAE BERBASIS TEKNOLOGI PANGAN

Bekasi, 6 Oktober 2026 — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bekasi terus mendorong optimalisasi program pembinaan kemandirian melalui pemanfaatan lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Kali ini, Lapas Kelas IIA Bekasi menggandeng Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) untuk mengembangkan pengelolaan Lahan SAE berbasis teknologi pangan agar semakin produktif, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah bagi warga binaan.
Kolaborasi tersebut diarahkan pada penerapan teknologi sederhana dan tepat guna dalam pengelolaan lahan, mulai dari pengolahan bahan organik, pemanfaatan limbah, hingga pengembangan pupuk organik yang dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian di Lahan SAE.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah drum komposter, yaitu metode pengolahan sampah organik menggunakan drum sebagai media pengomposan. Melalui proses pengolahan yang tepat, limbah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair (POC).

Pemanfaatan drum komposter tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dengan prinsip zero waste, di mana sisa bahan organik tidak sekadar menjadi limbah, tetapi diolah kembali menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.
Kepala Lapas Kelas IIA Bekasi menyampaikan bahwa sinergi dengan perguruan tinggi merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
“Kami ingin Lahan SAE tidak hanya menjadi lahan produktif, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi warga binaan. Dengan dukungan Universitas Al Azhar Indonesia, kami berupaya menerapkan teknologi yang sederhana, tepat guna, dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Kalapas.
Menurutnya, pengolahan limbah organik menjadi pupuk padat dan pupuk cair memiliki manfaat ganda. Selain mengurangi limbah, hasil pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pupuk tanaman yang dibudidayakan di Lahan SAE.

“Jadi ada siklus yang kami bangun. Bahan organik diolah menjadi pupuk, pupuk digunakan untuk tanaman, kemudian hasil pertanian dapat dimanfaatkan dan dikembangkan kembali. Harapannya, Lahan SAE semakin produktif sekaligus memberikan keterampilan nyata kepada warga binaan,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, Universitas Al Azhar Indonesia memberikan dukungan pengetahuan dan pendampingan dalam penerapan teknologi pengolahan bahan organik serta pengembangan pengelolaan lahan. Transfer pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan warga binaan dalam mengelola kegiatan pertanian secara lebih efektif dan efisien.
Program ini juga sejalan dengan semangat pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan, di mana warga binaan diberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Melalui pengembangan Lahan SAE berbasis teknologi, Lapas Kelas IIA Bekasi tidak hanya berupaya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membangun ekosistem pembinaan yang mengintegrasikan aspek keterampilan, keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan teknologi, dan pemberdayaan warga binaan.

Ke depan, sinergi Lapas Kelas IIA Bekasi bersama Universitas Al Azhar Indonesia akan terus dikembangkan melalui berbagai inovasi, sehingga Lahan SAE dapat menjadi salah satu pusat pembinaan kemandirian yang produktif, edukatif, dan berkelanjutan.
Dari lahan, lahir keterampilan. Dari keterampilan, tumbuh kemandirian.
